Penerapan Model Quantum Teaching untuk Meningkatkan
Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas VIIID SMP



ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskrisikan Model Quantum Teaching dalam meningkatkan pemahman konsep IPA. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 3 (tiga) siklus dengan masing-masing siklus terdiri atas empat tahapan yaitu: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi/evaluasi, dan (4) refleksi. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIIID SMP Negeri 4 Tembuku tahun pelajaran 2013/2014. Data penelitian ini berupa data pemahaman konsep IPA siswa yang dikumpulkan melalui post-test. Instrumen pengumpulan data berupa tes pemahaman konsep IPA. Data dianalisis secara deskriptif yaitu data dilakukan perhitungan kuantitatif dan dideskrIPAikan untuk memperoleh gambaran hasil penelitian. Dengan  menggunakan  model  Quantum Teaching pada  pelajaran  IPA dapat meningkatkan pemahaman konsep IPA siswa kelas VIIID SMPN 4 Tembuku tahun pelajaran 2013/2014.   Hal ini dapat dilihat dari rata-rata pemahaman konsep IPA siswa yang mengalami peningkatan dari dari pra siklus ke siklus I sebesar 12,11 poin, dari pra siklus ke Siklus II sebesar 15,58 poin dan dari siklus I ke siklus II sebesar 3,47 poin. Demikian pula terjadi peningkatan ketuntasan belajar secara klasikal dari dari pra siklus ke siklus I sebesar 53,85 poin, dari pra siklus ke Siklus II sebesar 65,38 poin dan dari siklus I ke siklus II sebesar 11,54 poin.


Kata-kata kunci:  quantum teaching, pemahaman konsep IPA


PENDAHULUAN
 Proses pengajaran akan terasa lebih hidup dan menjalin kerjasama antar siswa, jika proses pembelajaran dengan paradigma lama diubah dengan paradigma baru, dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam berpikir dengan bangkit memperjuangkan nasib pendidikan melalui pembaharuan dalam berbagai aspek, sehingga arah pembelajaran yang lebih kompleks tidak hanya satu arah dan proses belajar mengajar akan dapat meningkatkan kerjasama diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, maka dengan demikian siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang lebih pintar sehingga proses pembelajaran lebih hidup dan hasilnya lebih baik.
Kenyataannya masih banyak guru yang sulit merubah pola pikir dari teaching menjadi learning. Guru masih mendominasi proses pembelajaran dan siswa hanya sebagai objek. Fenomena seperti ini berdampak pada hasil belajar siswa yang rendah. Hal ini terbukti pada siswa SMP Negeri 4 Tembuku khususnya pada mata pelajaran IPA yang ditunjukkan dari hasil ulangan akhir semester (UAS) pada semester 1 tahun pelajaran 2013/2014. Hasil UAS khususnya pada kelas VIII hanya mencapai rata-rata 64,71 dengan KKM yang ditetapkan 72. Kenyataan seperti itu diduga karena pembelajaran IPA yang selama ini dilaksanakan cenderung menggunakan metode ceramah dan tanya jawab. Guru lebih banyak menggurui daripada sebagai fasilitator, mengacu pada LKS, tidak mengacu pada program pembelajaran yang disusun. Selama proses pembelajaran tidak jarang guru tidak menyampaikan standar kompetensi, guru hanya sekedar mengingatkan siswa tentang materi pertemuan sebelumnya, kemudian guru melanjutkan materi yang akan diberikan. Setelah selesai menjelaskan, guru melanjutkan dengan memberikan soal latihan yang ada di LKS. Keadaan ini menyebabkan kebosanan selama proses pembelajaran di kelas.
Pengetahuan dapat diperoleh siswa melalui aktivitas belajar. Perkembangan pengetahuan siswa tergantung pada seberapa jauh siswa aktif memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Pengetahuan meliputi pemahaman siswa terhadap konsep materi yang disajikan guru. Seorang guru IPA semestinya menerapkan model-model pembelajaran yang dapat merangsang siswa untuk semangat belajar, membangun motivasi positif dan suasana lingkungan yang mendukung sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mengembangkan keterampilan berpikir siswa. Keterampilan berpikir selalu berkembang dan dapat dipelajari serta merupakan kecakapan yang harus dimiliki setiap orang (Arnyana, 2007).
Model quantum teaching merupakan pembelajaran yang berlangsung secara meriah dengan segala suasananya (DePorter, 2010). Pembelajaran ini berpusat pada siswa, dengan metode pembelajaran yang menyenangkan. Pemakaian berbagai alat bantu seperti penataan bangku yang berbeda-beda, dan musik mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menarik minat siswa untuk terus mengikuti pembelajaran. Dengan proses pembelajaran yang diiringi dengan niat dan kemauan yang besar, serta penyampaian materi dengan menggunakan media yang menunjang dan suasana lingkungan kelas yang nyaman serta menyenangkan karena ada iringan musik latarnya, pembelajarannya melalui diskusi, tanya jawab serta pengerjaan tugas yang dilakukan di kelas mampu meningkatkan pemahaman konsep siswa. Pemahaman yang diharapkan yakni siswa mampu menterjemahkan gambar atau grafik dengan menggunakan kata-katanya sendiri, siswa mampu memahami bagian-bagian yang disusun dalam bentuk yang lain dan mampu menarik kesimpulan. Sehingga diperlukan terobosan baru selama proses pembelajaran agar siswa merasa senang ketika belajar dan nantinya diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep serta keterampilan berpikir kreatif siswa berkembang maksimal.


Post a Comment

Previous Post Next Post