BAB I
PENDAHULUAN

1.1.          Latar Belakang
Saat ini komputer bukan lagi merupakan barang mewah. Alat ini sudah digunakan di berbagai bidang pekerjaan salah satunya dalam bidang pendidikan. Pada awalnya, komputer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang administrasi dengan memanfaatkan software tertentu dalam penggunaannya. Dengan diintegrasikannya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam kurikulum baru, peranan komputer sebagai salah satu komponen utama dalam kegiatan pembelajaran (TIK) mempunyai posisi yang sangat penting.
Visi mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah agar siswa dapat dan terbiasa menggunakan perangkat TIK secara tepat dan optimal untuk mendapatkan dan memproses informasi dalam kegiatan belajar, bekerja, dan aktifitas lainnya sehingga siswa mampu berkreasi, mengembangkan sikap imaginatif, mengembangkan kemampuan eksplorasi mandiri, dan mudah beradaptasi dengan perkembangan baru di lingkungannya. Melalui mata pelajaran TIK, diharapkan siswa dapat terlibat pada perubahan pesat dalam kehidupan yang mengalami penambahan dan perubahan dalam penggunaan beragam produk teknologi informasi dan komunikasi. Siswa mampu menggunakan perangkat TIK untuk mencari, mengeksplorasi, menganalisis, dan saling tukar informasi secara efektif dan efisien. Dengan menggunakan perangkat TIK, siswa akan dengan cepat mendapatkan ide dan pengalaman dari berbagai kalangan. Penambahan kemampuan siswa karena penggunaan TIK akan mengembangkan sikap inisiatif dan kemampuan belajar mandiri, sehingga siswa dapat memutuskan dan mempertimbangkan sendiri kapan dan dimana penggunaan TIK secara tepat dan optimal, termasuk apa implikasinya saat ini dan dimasa yang akan datang.
Pembelajaran TIK di kelas akan sangat efektif apabila guru melaksanakannya dengan memahami peran, fungsi dan kegunaan mata pelajaran yang diajarnya. Di samping pemahaman akan hal-hal tersebut, keefektifan itu juga ditentukan oleh kemampuan guru untuk merubah model pengajaran menjadi model pembelajaran sesuai yang diharapkan oleh Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses. Sebagai seorang guru juga diperlukan untuk mampu menerapkan beberapa metode ajar sehingga paradigma pengajaran dapat dirubah menjadi paradigma pembelajaran sebagai tuntutan peraturan yang disampaikan pemerintah (Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar Proses dan Permen No. 16 tahun 2007 tentang  Standar Kualifikasi Guru).
Kejadian yang sering terjadi di lapangan selama proses pembelajaran TIK yang dilakukan selama ini lebih cenderung ke arah teacher center, siswa harus dibimbing terus untuk dapat mengaplikasikan materi yang diajarkan. Melihat luasnya cakupan materi TIK serta perkembangan teknologi yang cepat seiring dengan perkembangan Software dan Hardware, maka diperlukan kemampuan eksplorasi mandiri siswa untuk belajar dalam mengikuti perkembangan teknologi.
Untuk itu, dalam proses pembelajaran dibutuhkan model-model pembelajaran yang tepat dalam penerapannya di lapangan, sehingga tujuan dari kegiatan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. Sebagai seorang guru harus mampu memilih model pembelajaran yang tepat bagi peserta didik. Karena itu dalam memilih model pembelajaran, guru harus memperhatikan keadaan atau kondisi siswa, bahan pelajaran serta sumber-sumber belajar yang ada agar penggunaan model pembelajara dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan belajar siswa.
Apabila guru betul-betul menguasai dan mengerti tentang hal-hal tersebut dapat diyakini bahwahasilbelajar peserta didik pada mata pelajaran TIK tidak akan rendah. Namun kenyataannyahasilbelajar siswa kelas IX C pada ulangan harian pertama di semester Ganjil tahun Pelajaran 2014/2015 mencapai nilai rata-rata 75 dari KKM 80. Melihat kesenjangan antara harapan-harapan yang telah disampaikan dengan kenyataan di lapangan,  maka sangat perlu kiranya dilakukan perbaikan cara pembelajaran. Salah satunya adalah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Inkuiri. Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis mencoba melakukan penelitian dengan mengambil judul Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Aktifitas dan hasil Belajar TIK Siswa Kelas IX C SMP N 2 Susut Tahun Pelajaran 2014/2015.

1.2.          Rumusan Masalah dan Cara Pemecahannya
1.2.1.   Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut:
A.      Apakah model pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas
B.      Apakah model pembelajaran Inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas

1.2.2.   Cara Pemecahan Masalah
Model pembelajaran Inkuiri merupakan salah satu dari banyak cara yang bisa dilakukan guru dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran. Model ini mempunyai langkah-langkah yang mendorong keaktifan siswa dalam belajar dengan cara memberikan kesempatan bagi siswa untuk lebih banyak mengamati objek atau materi pelajaran, menemukan sendiri hal-hal yang perlu, baik menyangkut materi, meneliti, mengintrogasi, memeriksa materi, sehingga siswa-siswa akan dapat mengalami dan menemukan sendiri.
Model Pembelajaran Inquiri ini mampu merangsang siswa untuk dapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, menuntut persiapan yang sangat matang, menuntut kemampuan yang matang dalam kegiatan intelektual, menutut semangat yang tinggi untuk mengikuti pelajaran agar dapat memproduksi apa yang diharapkan, serta menuntut mereka lebih berpikir kritis. Siswa akan menjadi aktif akibat diberikan kesempatan untuk menyiapkan materi lewat penemuannya sendiri, yang sudah pasti akan membuktikan tuntutan-tuntutan kemampuan yang tinggi baik dalam penampilan maupun keilmuan. Tanpa keilmuan yang mencukupi tidak akan mungkin tampilannya akan memuaskan, dalam hal ini siswa tidak bisa sembarangan saja, mereka harus betul-betul mampu menyimpulkan terlebih dahulu apa yang akan mereka sampaikan. Tuntunan langkah-langkah analisis, pikiran intelektual, pemahaman konsep, bakat akademik yang dilakukan dengan motivasi, interpretasi yang inovatif dipihak guru akan  menentukan keberhasilan pelaksanaan model ini.
Berdasar uraian singkat ini, jelas bahwa model pembelajaran Inkuiri menuntut kemampuan siswa untuk giat mempelajari apa yang disampaikan guru, mampu menampilkan dirinya sebagai pemikir di depan siswa-siswa yang lain. Dipihak lain, untuk dapat menyelesaikan tuntutan tersebut, inovasi yang dilakukan guru akan sangat menentukan. Inovasi tersebut berupa tuntunan-tuntunan, motivasi-motivasi, interpretasi serta kemampuan belajar tanpa hafalan. Oleh karenanya langkah-langkah ini diharapkan akan dapat digunakan sebagai cara pemecahan masalah.

1.3.          Tujuan Penelitian
Berdasar rumusan masalah yang telah disampaikan, Tujuan Penelitian yang dapat disampaikan adalah:
1.      Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan Aktivitas belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Inkuiri dalam pembelajaran.
2.      Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatanhasilBelajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran Inkuiri dalam pembelajaran.





1.4.          Manfaat Penelitian
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat sebagai acuan dalam memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru. Sedangkan secara praktis penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi sekolah, khususnya SMP Negeri 2 Susut dalam rangka meningkatkan Aktivitas danhasilbelajar siswa. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi guru-guru sebagai salah satu model yang bisa diterapkan untuk peningkatan kualitas kegiatan pembelajaran.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.          Model Pembelajaran Inkuiri
Perilaku mengajar dengan strategi inkuiri juga disebut sebagai model inkuiri. Model inkuiri merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. (Dimyati, 2006 : 173). Dalam model  inkuiri siswa dirancang untuk terlibat dalam melakukan inkuiri. Model pembelajaran inkuiri merupakan pembelajaran yang terpusat kepada siswa. Dalam pengajaran ini siswa menjadi aktif belajar. Tujuan model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.
Tekanan utama pembelajaran dengan strategi inkuiri adalah (i) pengembangan kemampuan berpikir individual lewat penelitian, (ii) peningkatan kemampuan mempraktekkan metode dan teknik penelitian, (iii) latihan keterampilan intelektual khusus, yang sesuai dengan cabang ilmu tertentu, dan (iv) latihan menemukan sesuatu, seperti “belajar bagaimana belajar” sesuatu.
Peranan guru yang penting adalah (i) menciptakan suasana bebas berpikir sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah, (ii) fasilitator dalam penelitian, (iii) rekan diskusi dalam klasifikasi dan pencarian alternatif pemecahan masalah, serta (iv) pembimbing penelitian, pendorong keberanian berpikir alternatif dalam pemecahan masalah. Sebagai pembimbing proses berpikir, guru menyampaikan banyak pertanyaan. Peran membimbing tersebut menonjol pada strategi guided inquiry dimana kemungkinan penemuan sebelumnya telah diperhitungkan sebelumnya oleh guru.
Peranan siswa yang penting adalah (i) mengambil prakarsa dalam pencarian dan pemecahan masalah, (ii) pelaku aktif dalam belajar melakukan penelitian, (iii) penjelajah tentang masalah dan metode pemecahan, dan (iv) penelu pemecahan masalah. Peranan tersebut sesuai dengan penekanan model inkuiri yang digunakan.
Evaluasi hasil belajar pada model inkuiri meliputi (i) keterampilan dan perumusan masalah, (ii) keterampilan pengumpulan data atau informasi, (iii) keterampilan meneliti tentang objek, seperti benda, sifat benda, kondisi, atau peristiwa dan pelaku, (iv) keterampilan menarik kesimpulan, dan (v) laporan (Dimyati, 2006:173).
Mulyasa, 2003 (dalam Maksum, 2006: 28) menulis bahwa inkuiri pada dasarnya adalah cara menyadari apa yang telah dialami, karena itu inkuiri menuntut peserta didik berpikir. Metode ini menempatkan peserta didik pada situasi yang melibatkan mereka dalam kegiatan intelektual. Metode ini menuntut peserta didik memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, melalui metode ini peserta didik dibiasakan untuk produktif, analitis dan kritis.
Bruner (dalam Putrayasa, 2005) menyatakan bahwa penggunaan model pembelajaran Inkuiri memberikan beberapa keunggulan:
A.     Model pembelajaran inkuiri meningkatkan potensi intelektual siswa.
B.     Siswa yang telah berhasil menemukan sendiri sehingga dapat memecahkan masalah yang ada akan meningkatkan kepuasan intelektualnya yang justru datang dari dalam diri siswa.
C.      Siswa dapat belajar bagaimana melakukan penemuan, yang hanya melalui proses melakukan penemuan itu sendiri.
D.     Belajar melalui inkuiri dapat menunjang proses ingatan atau konsep yang telah dipahami siswa lebih lama dapat diingat.
E.      Belajar melalui inkuiri, siswa dapat memahami konsep-konsep dan ide-idenya dengan baik.
F.      Pengajaran menjadi lebih berpusat pada siswa.
G.     Proses pembelajaran inkuiri dapat membentuk dan mengembangkan konsep diri.
H.     Melalui pembelajaran inkuiri dimungkinkan tingkat harapan bertambah.
I.        Model pembelajaran inkuiri dapat mengembangkan bakat akademik.
J.        Model pembelajaran inkuiri dapat menghindarkan siswa dari belajar dengan hafalan.
K.     Model pembelajaran inkuiri dapat memberikan waktu kepada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Jones, 1979 (dalam Maksum, 2006: 18) juga menyatakan bahwa metode inkuiri ialah suatu metode pembelajaran yang dirancang dengan suatu sistem kegiatan belajar mengajar yakni menyangkut metode, teknik dan strategi pembelajaran yang memungkinkan para peserta didik mendapat jawabannya sendiri secara optimal.
            Dari semua pendapat di atas apabila dihubungkan dengan tuntutan Depdiknas tentang cara pembelajaran yang interaktif, inspiratif, memotivasi, menantang, menyenangkan serta yang memberi ruang yang cukup untuk prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai bakat, minat dan perkembangan fisik dan psikologis siswa maka model pembelajaran inkuiri sangat cocok dan sangat mendukung tuntutan Pemerintah Indonesia, oleh karenanya model ini sangat tepat dan selaras dengan apa yang mesti ditulis guru dalam rencana pelaksanaan pembelajaran.

2.2.          Aktivitas
Kata “Aktivitas” berasal dari Bahasa Inggris ‘activity’ yang artinya ‘state of action, lireliness or ingorous mation’ (Webster’ New American Dictionary, 1993:12). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kata ini berarti kebenaran dari perlakuan, kegiatan yang aktif, kegiatan yang aktual atau giat dalam melakukan gerak-gerik, usul. Dalam bahasa Indonesia aktif berarti giat belajar, giat berusaha, dinamis, mampu berkreasi dan beraksi (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 32).
            Dalam penelitian ini, aktivitas yang diamati terdiri dari 5 prilaku siswa hasil modifikasi dari Nana Sudjana, yaitu:
1.      Bertanya kepada guru atau siswa.
2.      Mengajukan pendapat atau komentar kepada guru atau kepada siswa.
3.      Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
4.      Dapat menjawab pertanyaan guru dengan tepat pada saat berlangsungnya pelajaran
5.      Bisa bekerjasama dan berhubungan dengan siswa lain.
                                                                (Nana Sudjana, 1996:113).

2.3.          Belajar
Belajar dalam Bahasa Inggris adalah “Study” yang artinya ‘The act of using the mind to require knowledge’ (Webster’ New American Dictionary: 1993). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, belajar adalah perbuatan menggunakan ingatan/pikiran untuk mendapatkan/ memperoleh pengetahuan. Belajar artinya berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu keterampilan; juga berarti berlatih (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 27). Selanjutnya belajar juga berarti perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dari praktek yang dilakukannya (Glosarium Standar Proses, Permen Diknas No. 41 tahun 2007). Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan pikiran untuk memperoleh ilmu. Ini berarti bahwa belajar adalah perbuatan yang dilakukan dari tahap belum tahu ke tahap mengetahui sesuatu yang baru.
            Prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif adalah: stimulus, perhatian dan motivasi, respon, penguatan dan umpan balik (Sriyono, 1992: http://www.scribd.com/doc/90372081). Juga dikatakan bahwa ativitas belajar berupa keaktifan jasmani dan rohani yang meliputi keaktifan panca indra, keaktifan akal, keaktifan ingatan dan keaktifan emosi. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas belajar dilakukan dalam bentuk interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa siswa dengan siswa lain (Abdul, 2002 dalam http://www.scribd.com/doc/90372081/).
Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa belajar sebenarnya merupakan cara yang membuat siswa aktif, baik dengan penggunaan cara simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan jasmani dan rohani siswa sehingga muncul interaksi antar siswa dengan guru begitu juga interaksi antara siswa yang satu dengan siswa lainnya.

2.4.          Prestasi Belajar
Prestasi belajar bidan Study TIK sama denganhasilbelajar bidang studi yang lain merupakan hasil dari proses belajar siswa dan sebagaimana biasa dilaporkan pada wali kelas, murid dan orang tua siswa setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran.
Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik, pendidik, orang tua/wali murid dan sekolah, karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi darihasilbelajar siswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun sekolah.hasilbelajar merupakan kemampuan siswa yang dapat diukur berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Djamarah (1994:23) mendefinisikanhasilbelajar sebagai hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar. Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari aktivitas belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di sekolah. Dengan kata lain,hasilbelajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Dengan mengkaji hal tersebut di atas, maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhihasilbelajar menurut Purwanto (2000: 102) antara lain: (1) faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang dapat disebut faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial., seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajamya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial. Dalam penelitian ini faktor ke 2 yaitu faktor yang dari luar seperti guru dan cara mengajarnya yang akan menentukanhasilbelajar siswa. Guru dalam hal ini adalah kemampuan atau kompetensi guru, pendidikan dan lain-lain. Cara mengajarnya itu merupakan faktor kebiasaan guru itu atau pembawaan guru itu dalam memberikan pelajaran. Sardiman (1988: 25) menyatakanhasilbelajar sangat vital dalam dunia pendidikan, mengingathasilbelajar itu dapat berperan sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi. Adapun peran sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi diuraikan seperti berikut.
Abdullah (dalam Mamik Suratmi, 1994: 22), mengatakan bahwa fungsihasilbelajar adalah: (a) sebagai indikator dan kuantitas pengetahuan yang telah dimiliki oleh pelajar, (b) sebagai lambang pemenuhan keingintahuan, (c) informasi tentanghasilbelajar dapat menjadi perangsang untuk peningkatan ilmu pengetahuan dan (d) sebagai indikator daya serap dan kecerdasan murid.
Mohammad Surya (1979), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhihasilbelajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dari sudut si pelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar.
Bila kita coba lihat lebih dalam dari pendapat di atas, makahasilbelajar dipengaruhi banyak faktor. Faktor-faktor dari si pebelajar sendiri atau faktor dalam diri siswa dan faktor luar. Faktor dalam diri siswa seperti IQ, motivasi, etos belajar, bakat, keuletan, dan lain-lain sangat berpengaruh padahasilbelajar siswa.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwahasilbelajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan belajar bidang studi sejarah.hasilbelajar ini sangat dipengaruhi oleh faktor luar yaitu guru dan metode. Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan.
Terkait dengan penelitian ini, untuk mengukurhasilbelajar TIK digunakan tes hasil belajar, dengan mengacu pada materi pelajaran TIK pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku di sekolah ini.

2.5.          Teknologi Informasi dan Komunikasi
Teknologi informasi dan komunikasi merupakan ilmu yang mempelajari penggunaan teknologi sebagai media komunikasi dan mengelola informasi. (Lia Kuswayanto, 2006). Sistem komunikasi merupakan metode atau cara yang digunakan dalam menyampaikan dan menerima informasi. Komputer merupakan salah satu alat teknologi informasi dan komunikasi yang banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya dalam bidang pendidikan
Media komputer adalah produk teknologi mutakhir yang dapat diprogram untuk mengendalikan tampilan informasi dalam bentuk kata maupun urutan gambar yang diam atau bergerak. Kemampuan ini bila diterapkan dalam dunia pembelajaran akan merupakan metode yang cukup canggih, karena dengan program komputer kemungkinan digunakan berbagai pola percabangan yang luwes dan pengaturan berbagai urutan respon, dimana penyiapannya membutuhkan keterampilan pemrograman (Purwoko, 2000:45).
Komputer adalah alat yang dipakai untuk mengolah informasi menurut prosedur yang telah dirumuskan. Kata komputer berasal dari bahasa latin computare yang mengandung arti menghitung. Karena luasnya bidang garapan ilmu komputer, para pakar dan peneliti sedikit berbeda dalam mendefinisikan terminologi komputer.
Dengan menggunakan komputer sebagai alat bantu/media pembelajaran, akan dapat divisualisasikan berbagai animasi yang sulit atau tidak mungkin untuk digambarkan atau dieksperimenkan. Disamping itu, pembelajaran dengan media komputer akan memberi motivasi yang lebih tinggi yang berpengaruh terhadap aktifitas belajar karena komputer selalu dikaitkan dengan kesenangan, permainan dan kreativitas sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.

2.6.          Kerangka Berpikir
Model pembelajaran Inkuiri memiliki langkah-langkah mengutamakan siswa dapat menemukan ilmu yng terdapat dalam materi pembelajaran dengan cara mencari sendiri. Guru dalam hal ini hanya sebagai motivator dan fasilitator. Model ini menuntut kegiatan intelektual yang tinggi, memproses apa yang mereka telah dapatkan dalam pikirannya untuk menjadi sesuatu yang bermakna. Mereka diupayakan untuk lebih produktif, mampu membuat analisa membiasakan mereka brpikir kritis, dapat mengingat lebih lama, materi yang telah mereka pelajari. Model ini juga bisa diupayakan untuk pengembangan kemampuan akademik, menghindarkan siswa belajar dengan hapalan, dapat memberikan tambahan kemampuan untuk dapat mengasimilasikan dan mengakomodasikan informasi, serta menuntut latihan-latihan khusus untuk mempertinggi daya ingat dengan berlatih untuk dapat menemukan sendiri sesuatu yang penting dalam materi yang diberikan. Dengan cara kerja yang sedemikian rupa dapat diyakini bahwa metode ini akan dapat memecahkan masalah yang ada.

2.7.          Hipotesis Tindakan
Dengan semua paparan di atas, dapat disampaikan hipotesis atau dugaan sementara yang bunyinya:
Langkah-langkah Model Pembelajaran Inkuiri dapat MeningkatkanhasilBelajar TIK Siswa Kelas IX C Semester Ganjil SMP N 2 Susut Tahun Pelajaran 2014/2015




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1.          Rancangan Penelitian
Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (sugiyono, 2007:4). Penelitian dapat pula diartikan sebagai cara pengamatan atau inkuiri dan mempunyai tujuan untuk mencari jawaban permasalahan atau proses penemuan, baik itu discovery maupun invention. Discovery diartikan hasil temuan yang memang sebetulnya sudah ada, sedangkan invention dapat diartikan sebagai penemuan hasil penelitian yang betul-betul baru dengan dukungan fakta (Sukardi, 2003:3).

Pada penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap seberapa besar model pembelajaran inkuiri mampu meningkatkan aktivitas danhasilbelajar Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas XI F SMPN 2 Susut Semester Ganjil. Untuk itu, pada penelitian ini penulis memilih rancangan penelitian tindakan yang disampaikan oleh Kemmis & Taggart seperti terlihat pada gambar berikut:














Gambar 1. Penelitian Tindakan Model Spiral (Kemmis & Taggart, 1998)
Apabila dicermati, model yang dikemukakan oleh Kemmis & Mc. Taggart pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu ; perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut dipandang sebagai satu siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan ini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. (Kemmis & McTaggart, 1990:14). 
Penelitian tindakan secara garis besar, peneliti pada umumnya mengenal adanya empat langkah penting, yaitu pengembangan plan (perencanaan), act (tindakan), observe (pengamatan), dan reflect (perenungan) atau disingkat PAOR yang dilakukan secara intensif dan sistematis atas seseorang yang mengerjakan pekerjaan sehari-harinya (Sukardi, 2007:212). Keempat langkah penting tersebut dapat diuraikan secara singkat seperti berikut:
A.     Rencana
    Rencana merupakan serangkaian tindakan terencana untuk meningkatkan apa yang telah terjadi. Dalam penelitian tindakan, rencana tindakan harus berorientasi ke depan. Disamping itu, perencana harus menyadari sejak awal bahwa tindakan sosial pada kondisi tertentu tidak dapat diprediksi dan mempunyai resiko. Oleh karena itu, perencanaan yang dikembangkan harus fleksibel untuk mengadopsi pengaruh yang tidak dapat dilihat dan rintangan yang tersembunyi. Perencanaan dalam penelitian tindakan sebaiknya lebih menekankan pada sifat-sifat strategis yang mampu menjawab tantangan yang muncul dalam perubahan sosial dan mengenal rintangan yang sebenarnya (Sukardi, 2003:213).

B.     Tindakan
    Langkah kedua yang paling perlu diperhatikan adalah langkah tindakan yang terkontrol secara seksama. Tindakan dalam penelitian tindakan harus hati-hati dan merupakan kegiatan praktis yang terencana. Ini dapat terjadi jika tindakan tersebut dibantu dan mengacu kepada rencana yang rasional dan terukur. Tindakan yang baik adalah tindakan yang mengandung tiga unsur penting, yaitu the improvement of practice, the improvement of understanding individually and collaboratively, and improvement of the situation in which the action takes place (Sukardi, 2003:213).

C.     Observasi
    Observasi pada penelitian tindakan mempunyai fungsi mendokumentasi implikasi tindakan yang diberikan kepada subyek. Oleh karena itu, observasi harus mempunyai beberapa macam unggulan seperti: memiliki orientasi prospektif, memiliki dasar-dasar reflektif waktu sekarang dan masa yang akan datang. Observasi yang hati-hati dalam hal ini sangat diperlukan untuk mengatasi keterbatasan tindakan yang diambil peneliti, yang disebabkan oleh adanya keterbatasan menembus rintangan yang ada di lapangan. Seperti dalam perencanaan, observasi yang baik adalah observasiyang fleksibel dan terbuka untuk dapat mencatat gejala yang muncul baik yang diharapkan atau yang tidak diharapkan (Sukardi, 2003:213).

D.    Reflektif
    Langkah keempat adalah langkah reflektif. Langkah ini merupakan sarana untuk melakukan pengkajian kembali tindakan yang dilakukan terhadap subjek penelitian dan telah dicatat dalam observasi. Langkah reflektif ini berusaha mencari alur pemikiran yang logis dalam kerangka kerja proses, problem, isu, dan hambatan yang muncul dalam perencanaan tindakan strategik. Langkah reflektif ini juga digunakan untuk menjawab variasi situasi sosial dan isu sekitar yang muncul sebagai konsekuensi adanya tindakan terencana (Sukardi, 2003:214).

3.2.          Subjek dan Objek Penelitian
3.2.1.   Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah semua siswa kelas IX C SMPN 2 Susut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1.     Nama-nama Siswa Kelas IX C SMPN 2 Susut

NO

NIS

NAMA SISWA
1
10562
I Dewa Gede Bisma Mahendra
2
10563
Dewani Agustin
3
10564
I Wayan Suyasa
4
10565
Kadek Indah Novita Rahayuni
5
10566
I Putu Dhiyo Hadi Pramana
6
10567
Ni Putu Tina Erawati
7
10568
Luh Putu Wanda Desi Savitri
8
10569
A.A. Gd. Bhismantara Candra Dwidiningrat
9
10570
Nur Qonitah
10
10571
Ni Luh Kadek Chrisna Dewi
11
10572
Made Satya Hitasthana
12
10573
I Komang Sangging Sindhu Arta
13
10574
Ni Pande Putu Suji Dian Antari
14
10575
Luh Gde Ria Rantiwi
15
10576
I Kadek Angga Prayoga
16
10577
Ida Bagus Gde Ari Sandjaya
17
10578
Ni Putu Krisna Yanti
18
10579
Anak Agung Ayu Shakila Indra Narayanthi
19
10580
Putu Agus Krisna Gauthama
20
10581
I Dewa Agung Istri Tirta Dewi
21
10582
Yosephine Hendra Liana
22
10583
Ni Komang Rani Cahyani
23
10584
Sang Kompiang Rizki Putra Atmaja
24
10585
Sang Ayu Oka Tresne Laksmi Bukit
25
10586
Anak Agung Gede Suardi Wira Darma
26
10587
I Putu Sandi Dita Wirawan
27
10588
I Dewa Made Surya Laksana
28
10589
I Gede Arya Krisnadinatha
29
10590
Luh Putu Yasmari Septidiantari
30
10591
Putu Winda Puri Ayundari Putri
31
10592
I Gede Eka Satria Wibawa
32
10593
I Kadek Jeffry Aditya Putra

3.2.2.   Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan aktivitas danhasilbelajar siswa kelas XI F SMPN 2 Susutsetelah diterapkan model Inkuiri dalam proses pembelajaran.

3.3.          Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Agustus sampai bulan Oktober 2014 Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2. Jadwal Penelitian

No
Kegiatan
Peb 2014
Mar 2014
 Apr 2014
Oktober 2014
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1.   
Penyusunan proposal dan perencanaan tindakan I












2.   
Pelaksanaan tindakan I















3.   
Pengamatan/pengumpulan data I














4.   
Refleksi I















5.   
Perencanaan tindakan II















6.   
Pelaksanaan tindakan II















7.   
Pengamatan/ pengumpulan data II














8.   
Refleksi II















9.   
Penulisan laporan/ penjilidan
















3.4.          Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data penelitian ini digunakan observasi dan teshasilbelajar.

3.5. Teknik Analisis Data
            Prilaku aktivitas siswa diamati dan dicatat dengan menggunakan lembar observasi selama proses pembelajaran di kelas. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Data aktivitas belajar siswa secara klasikal dianalisis berdasarkan skor rata-rata aktivitas belajar siswa (M), mean ideal (Mi), dan standar deviasi ideal (Sdi) pada masing-masing siklus sebagai berikut;
M  = Rata-rata jumlah skor aktivitas belajar siswa per banyaknya siswa.
Mi  =  (Skor tertinggi ideal + skor terendah ideal).
Sdi =  (Skor tertinggi ideal - skor terendah ideal).
(Nurkancana dan Sunartana , 1992)
Penggolongan aktivitas belajar siswa secara klasikal menggunakan kriteria sebagai berikut;

                                 M   ³ Mi + 1,5 Sdi                                       Sangat aktif

Mi + 0,5 Sdi £ M < Mi + 1,5 Sdi                                     Aktif   

Mi - 0,5 Sdi £ M < Mi + 0,5 Sdi                                      Cukup aktif

Mi - 1,5 Sdi £ M < Mi - 0,5 Sdi                                       Kurang aktif

M < Mi - 0,5 Sdi                                                                Sangat kurang aktif
(Nurkancana dan Sunartana , 1992)
          Dalam hal ini, skor tertinggi ideal dan skor terendah ideal adalah 5 dan 0. Dengan demikian dapat dihitung mean ideal (Mi) dan standar deviasi ideal (Sdi), yaitu:
         Mi =  (5+ 0) = 2,5           dan       Sdi =  (5- 0) = 0,83.
Jadi kriteria penggolongan tingkat aktivitas belajar siswa adalah:

                 M ³3,75                                                          Sangat aktif

              2,92 £ M < 3,75                                                            Aktif   

             2,08 £ M <  2,92                                                            Cukup aktif

             1,25 £ M < 2,08                                                 Kurang aktif

             M < 1,25                                                                         Sangat kurang aktif
Dari data aktivitas siswa yang dikumpulkan akan dihitung skor rata-rata aktivitas siswa (M) dengan rumus:
              
Dimana: M = skor rata-rata aktivitas siswa
                        X = skor aktivitas siswa
                        N = banyaknya siswa
Skor rata-rata aktivitas siswa (M) yang diperoleh dari perhitungan dibandingkan dengan kreteria penggolongan yang ditetapkan. Dengan demikian akan dapat ditentukan aktivitas siswa selama pembelajaran.. Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran dikatakan berhasil apabila termasuk dalam kriteria cukup aktif, aktif, atau sangat aktif.
Data tentanghasilbelajar siswa dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif, yaitu dengan cara menghitung rata-rata kelas dengan rumus sebagai berikut:
     
   Keterangan :         =  skor rata-ratahasilbelajar siswa
                              Xi   =  skorhasilbelajar siswa ke-i
                               N  =  banyaknya siswa
                                                                            (Sudjana, 1996).
          Untuk mengetahui daya serap (DS) dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal (KB) dihitung dengan rumus berikut:
              DS =  x 10 %
       Keterangan : DS = Daya serap siswa
                              = Nilai rata-ratahasilbelajar siswa
       Dan
              KB =  x 100 %
(Depdikbud, 1994)
          Indikator yang digunakan untuk melakukan interpretasi terhadap data tentanghasilbelajar siswa menurut Depdikbud (1994) adalah tercapainya rata-rata kelas, daya serap siswa, dan ketuntasan belajar klasikal masing-masing minimal   65 % dan  85 %.
          Secara keseluruhan, penelitian ini dikatakan berhasil apabila aktivitas belajar siswa minimal berkatagori cukup aktif danhasilbelajar siswa mengalami peningkatan.

3.6.          Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian
Sebelum sampai pada instrumen penelitian, yang mesti dibuat terlebih dahulu adalah kisi-kisi instrumen penelitian. Kisi-kisi ini sangat penting dibuat untuk memberi arah terhadap hal-hal yang dipertanyakan dalam instrumen penelitian. Tujuan penyusunan kisi-kisi instrumen adalah merencanakan setepat mungkin ruang lingkup dan tekanan tes dan bagian-bagiannya, sehingga perumusan tersebut dapat menjadi petunjuk yang efektif bagi penyusunan tes, terlebih-lebih bagi penulis soal (Suryabrata, 2000: 60-61).

Post a Comment

Previous Post Next Post